Showing posts with label Articles. Show all posts
Showing posts with label Articles. Show all posts

Thursday, January 26, 2012

Semangat dari Masalah

dakwatuna.com - Sedari lahir kita adalah pemenang dari sekian banyak sel telur yang berhasil dibuahi sperma. Dan sejatinya kita adalah pemenang. Pemenang yang di pilih Allah untuk menyampaikan risalahNya dengan berbagai kemampuan yang Allah titipkan dan dalam kesempatan apapun.
Mengapa selanjutnya kita sering merasa kalah dan menjadi pecundang? Banyak orang menunggu di berikan semangat oleh kita. Jangan pernah berpikir, “itu kan urusan Anda, bukan urusan saya jadi mengapa saya harus peduli?” Seorang teman pernah berkata, bahwa dengan kita bisa memotivasi orang lain, maka secara otomatis kita akan termotivasi.
Kita menjadi pemenang manakala kita mampu membuat diri kita bahagia dan membahagiakan orang lain, dengan kapasitas yang kita miliki tentunya. Salah satunya adalah dengan menyuntikkan semangat pada siapa saja yang membutuhkan. Tak perlu menunggu menjadi sukses untuk bisa memberikan kekuatan pada seseorang yang sedang lemah. Lebih baik berbagi dengan yang sedikit daripada tidak sama sekali. Karena sukses sendiri adalah ketika mampu berbagi semangat bahkan di kala kita lemah dan bangkit bersama menatap dunia. Tanpa sadar, hati dan bibir kita akan menyunggingkan senyum manakala ada secercah semangat yang kita hadirkan untuk orang lain. Siapa pun itu, baik yang kita kenal maupun tidak.
Karena pada dasarnya tiap manusia itu terlahir dengan membawa masalah. Masalah yang Allah berikan bukan tanpa makna. Karena dari masalah kita akan menemukan banyak pelajaran dan hikmah, bagi kaum yang berpikir. Termasuk diri kita. Masalah yang selalu hadir satu paket dengan penyelesaiannya. Masalah yang terkadang membawa kita pada keterpurukan, yang ketika kita bangkit akan membuka mata hati kita untuk melihat dunia dengan cara pandang yang berbeda. Semua itu tak lepas dari campur tangan Allah Ta’ala dan kedekatan kita padaNya. Karena sesungguhnya Allah tak pernah menyengsarakan hambaNya. Namun tak semua orang mampu membuka sendiri mata hatinya saat melihat masalah datang. Banyak yang terlena dan justru menjauh dariNya, menyalahi takdir. Masalah boleh datang memenuhi pikiran, tapi jangan sampai mengacaukan hati untuk selalu mengingatNya. Terus berusaha positive thinking. Bukalah setitik pencerahan yang Allah titipkan melalui perantara apapun dan siapa pun. Karena itu adalah cara Allah untuk membuka mata hati kita untuk mengingatkan bahwa Allah selalu ada untuk kita. Tak pernah sedikit pun Ia meninggalkan kita.
Manakala kita terpuruk, mungkin kita telah meninggalkan secercah semangat yang berusaha berlari mengejar kita yang mendahuluinya dengan menggenggam kesedihan. Kesedihan adalah lumrah. Karena dengan begitu kita akan menghargai  hadirnya kebahagiaan. Tapi jangan pernah memanjakannya. Jadi ketika masalah datang, tempatkan kesedihan di tangan kiri dan taruh semangat di tangan kanan. Supaya ketika ada orang yang membutuhkannya, kita dapat langsung memberikannya.  Abaikan kesedihan dan lemparkan semangat ke seluruh dunia. Berikan senyum terindah dari hati. Biar kesedihan menjadi konsumsi kita dan serahkan kepada Allah. Biar Allah saja yang membantu kita. Cukup Allah.
Allahua’lam.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/17553/semangat-dari-masalah/#ixzz1kccAHGST

Monday, January 23, 2012

komitmen..

Kalau mendengar kata komitmen, rasanya adalah hal yang begitu sering diperbincangkan dalam suatu organisasi. Dalam tahapan open recruitment saja, sudah banyak pertanyaan mengenai sejauh mana komitmen kita jika masuk dalam organisasi tersebut. Ya, menurut saya komitmen memang harus ada dalam berorganisasi. Untuk menjalankan ibadah saja kita perlu komitmen yang kuat, begitu pula dengan organisasi.
Ada dua pendekatan dalam merumuskan definisi komitmen dalam berorganisasi. Yang pertama melibatkan usaha untuk mengilustrasikan bahwa komitmen dapat muncul dalam berbagai bentuk, maksudnya arti dari komitmen menjelaskan perbedaan hubungan antara anggota organisasi dan entitas lainnya (salah satunya organisasi itu sendiri). Yang kedua melibatkan usaha untuk memisahkan diantara berbagai entitas di mana individu berkembang menjadi memiliki komitmen. Kedua pendekatan ini tidak compatible namun dapat menjelaskan definisi dari komitmen, bagaimana proses perkembangannya dan bagaimana implikasinya terhadap individu dan organisasi (Meyer & Allen, 1997).
Alasan klasik yang paling sering muncul ketika seseorang berkurang komitmennya adalah karena tak ingin kuliah terbengkalai. Adalah hal biasa jika mahasiswa bolos kuliah, bahkan cuti kuliah atau mengundurkan diri sekaligus dengan alasan berkorban demi kemajuan organisasi yang diikuti sekarang. Saya pernah sedikit membaca mengenai sense belongness yang tercakup dalam buku Psikologi Sosial karya Gerungan. Sense belongness atau rasa keikutsertaan dan rasa bertanggungjawab organisasi memang penting ada. Dan bahkan harus ada agar eksistensi dari suatu organisasi tersebut bisa terus berlangsung. Namun sense belongness ini juga yang digunakan sebagai alasan untuk meninggalkan tujuan utama yaitu kuliah. Kalau kuliah terbengkalai, rasanya tak adil kalau menyalahkan organisasi atau justru meninggalkan organisasi. Karena dalam organisasi-lah kita bisa menempa diri dan meningkatkan kapasitas diri, contohnya dalam hal time management. Semakin kita aktif, kita juga terlatih untuk semakin menghargai waktu yang kita punya, perkara waktu kegiatan di organisasi yang bentrok dengan kuliah, toh bisa tetap dilaksanakan kedua-duanya kalau kita mau. Organisator yang tangguh adalah orang yang pandai mengatur space-space kehidupannya. Jika hal ini yang terjadi maka terwujudlah suatu keseimbangan.
Dalam Psikologi Industri dan Organisasi, ada teori behavioral commitment dimana anggota dipandang dapat menjadi berkomitmen kepada tingkah laku tertentu, daripada pada suatu entitas saja. Sikap atau tingkah laku yang berkembang adalah konsekuensi komitmen terhadap suatu tingkah laku. Contohnya anggota organisasi yang berkomitmen terhadap organisasinya, mungkin saja mengembangkan pola pandang yang lebih positif terhadap organisasinya, konsisten dengan tingkah lakunya untuk menghindari disonansi kognitif atau untuk mengembangkan self-perception yang positif.

Saturday, January 21, 2012

sharing is giving without losing anything

Teringat perkataan seseorang beberapa waktu yang lalu, saat saya membutuhkan seorang pendengar, saat masalah membuat saya penat dan tak tahu harus berbagi pada siapa, dia mau menjadi pendengar saya tanpa syarat. Awalnya ada keraguan untuk bercerita, karena saya termasuk orang yang tak begitu saja percaya pada orang lain, tapi untuk yang satu ini, keraguan itu tampaknya tak begitu terlihat, dan tak butuh waktu lama untuk kemudian memutuskan menceritakan masalah saya padanya.

Sedikit saja, itu di awal. Sebenarnya yang ingin saya bahas kali ini adalah tentang sharing atau yang biasa kita sebut dengan curhat (curahan hati). Kita beranjak ke pengertian curhat itu sendiri, curhat adalah pengungkapan mengenai hal – hal yang biasanya bersifat personal kepada orang lain. Tapi, curhat berbeda dengan pengaduan. Pengaduan lebih sering dipakai untuk hal - hal yang bersifat sosial. Curhat juga berbeda dengan konseling. Konseling lebih bersifat personal – formal, jadi kalau konseling, kita mengungkapkan hal – hal personal kita tetapi ada profesional, bahkan, terkadang konseling juga kadang harus bayar . Jelas berbeda, karena curhat itu lebih sering gratis (bayarnya pulsa telepon atau sms saja kalau menggunakan telepon atau hp). Hal yang paling mendasar dari konseling adalah bimbingannya. 

Seiring dengan kemajuan teknologi, praktek curhat juga semakin maju caranya. Bayangkan saja, saat ini ada stasiun radio yang khusus menangani orang yang ingin curhat, ada provider telepon seluler yang membuka nomor khusus untuk curhat, ada mailing list khusus yang memang didesain untuk keperluan curhat. Bahkan, tak sedikit website yang berubah fungsinya menjadi semacam tempat untuk curhat - curhatan antar membernya.

Kenapa banyak orang yang menempuh cara curhat ? Adakah manfaat yang bisa dipetik dari cara demikian ? Memang ada pendapat yang berbeda - beda soal hal ini. Dari sebagian orang yang saya tanya, ada yang menganggap curhat itu kurang kerjaan. Masalah itu tidak selesai dengan curhat. Curhat itu adalah lambang kecengengan. Tapi, tidak sedikit yang menganggap curhat sebagai salah satu kebutuhan. Curhat bisa menormalkan emosi kita, bisa menyumbangkan pikiran, dan bisa melegakan batin. Meski masalah tidak selesai dengan curhat, tetapi biasanya sehabis curhat kita merasa plong atau lebih ringan.

Kalau dilihat dari teorinya, memang ada banyak penjelasan yang bisa dipahami bahwa curhat itu termasuk kebutuhan sosial manusia. Di antara kebutuhan sosial itu misalnya : ingin ditemani, ingin ada orang yang merasa senasib, ingin dipedulikan, ingin dihargai, ingin dianggap, ingin didengarkan, dan seterusnya. Kata sebuah bait puisi yang pernah saya baca, sumbangsih yang paling berharga untuk sesama kita adalah kesediaan untuk saling mendengarkan. 

Menurut Horney ( 1945 ), setiap orang itu pada dasarnya memiliki tiga kebutuhan dasar. Kebutuhan pertama adalah kebutuhan untuk mendekati orang lain / orang banyak, gunanya agar mendapatkan cinta / pengakuan. Curhat bisa masuk dalam kebutuhan ini. Kebutuhan kedua adalah kebutuhan untuk menjauhi orang banyak, gunanya agar memperoleh kebebasan dan kemandirian. Sedangkan, kebutuhan ketiga adalah kebutuhan untuk menentang orang banyak, guna mendapatkan kekuasaan atau kekuatan.

Terlepas dari pernyataan berguna atau tidak, tapi prakteknya ini kerap kita lakukan atau sulit dihindari untuk tidak melakukannya. Karena itu, mungkin di sini yang diperlukan adalah melihat kapan dan bagaimana curhat itu kita lakukan. Curhat-lah hanya pada orang yang menurut kamu itu layak. Layak di sini pengertiannya mungkin layak dalam menjaga rahasia pribadi, layak dalam menangani masalah, layak secara kedekatan hubungan, dan seterusnya. Jangan pula curhat kepada semua orang atau sembarang orang. Lain lagi kalau niat kita memang hanya untuk iseng. Selain itu, curhatlah hanya ketika kita mendapati masalah - masalah yang memang perlu curhat. Misalnya saja, kita menghadapi masalah yang masih belum terbayang bagaimana menanganinya. Saat itu kita butuh pembanding, butuh konfirmasi ( penguat ) dari orang lain, butuh informasi, dan sebagainya. Jangan curhat untuk semua masalah. Ini berpotensi menghilangkan power personal atau bisa dianggap kita ini cengeng atau selalu mengeluh. Bedanya terkadang sangat tipis dan tidak ketahuan. 

Curhat juga harus pada waktu yang tepat atau yang kira-kira tidak mengganggu orang yang kita curhati. Jangan sedikit - sedikit curhat atau curhat terlalu lama. Perlu kita ingat bahwa ketika kita sedang sangat butuh untuk curhat, umumnya kondisi emosi kita tidak stabil. Mungkin stress, depresi, atau mungkin sedang merasa terhimpit. Dalam kondisi semacam itu, biasanya kita cenderung "agak memaksa" orang lain. Kita ingin secepatnya dipahami oleh orang lain lebih dulu. Padahal kita juga perlu memahami orang lain. Karena itu, yang dibutuhkan di sini adalah pengendalian diri. Jangan sampai kita mengesampingkan kebutuhan untuk memahami orang lain meski keinginan kita adalah untuk dipahami secepatnya.

Curhat – lah untuk berbagi pengalaman, pengetahuan dan perasaan. Meski kita yang punya acara untuk curhat itu, tapi jangan lupa juga untuk memberikan kesempatan bicara kepada orang yang kita curhati. Ajukan pertanyaan seputar pengalaman dan pengetahuannya tentang persoalan tertentu. Jangan sampai kita curhat hanya untuk curhat. Walaupun ini sah juga tapi alangkah baiknya kalau kita juga mendapatkan manfaat yang banyak. Selain itu, dapatkan juga dukungan. Agar ini tercapai, kita harus tahu orang yang tepat untuk dicurhati.

Curhatlah untuk tujuan yang positif dan konstruktif. Ini demi kebaikan kita atau demi untuk memperbaiki situasi. Kenapa perlu dibatasi ? Terkadang kita curhat dengan menjelek - jelekkan orang lain yang intinya malah memperkeruh suasana. Masalah kita dengan orang lain dan apa saja yang dilakukan orang lain atas kita memang butuh penjelasan. Tapi, penjelasan disitu sifatnya untuk membeberkan fakta atau memberikan perspektif yang lebih utuh. Ini agar diketahui apa saja yang sebaiknya kita lakukan. Yang jangan sampai adalah penjelasan itu kita bumbui dengan fitnah, adu domba, kedengkian, manipulasi fakta, dan seterusnya. Ini berbahaya buat kita sendiri dan orang lain tentunya.


Sekilas mengenai curhat telah selesai saya jelaskan tampaknya. Dari sinilah semoga kita semakin memahami apa artinya “sharing is giving without losing anything”, karena curhat memang diperlukan. Curhat juga tidak akan membuat kita kehilangan apapun dalam diri kita, selama kita bisa menempatkan curhat itu tepat waktunya, penyampaiannya, dan orang yang kita curhati.

Saturday, December 17, 2011

Saat Anak sedang Puber

Puber.. Kata ini identik sebagai masa ketertarikan terhadap lawan jenis. Memang, hal itu bisa menjadi pertanda bahwa seorang anak sedang memasuki masa puber, yaitu masa transisi  dalam tahap perkembangan manusia dari kanak – kanak menuju dewasa. Namun, puber tak hanya berkaitan dengan ketertarikan anak pada lawan jenisnya. Masa ini merupakan masa yang demikian penting dalam perkembangan mereka. Pada masa peralihan inilah, mereka mengalami banyak ”masalah psikologis” sebagai akibat perubahan fisik, perkembangan organ seksual, psikologis, pengetahuan, sosiologis, dan tentunya emosional. Masa ini terjadi pada usia 12 – 18 tahun, seringkali disebut masa remaja. Perkembangan jasmani yang berlangsung cepat dan signifikan sangat terlihat di masa ini. Kenapa anak menjadi labil ? Tinggi dan berat badan anak tidak sebanding dengan ukuran jantung, karena tidak berkembang secepat perkembangan fisik mereka. Hal ini karena adanya tekanan yang cukup keras pada jantung, namun tidak diimbangi dengan kemampuan jantung untuk mengikuti perkembangan fisik yang cepat.

Lalu yang menjadi pertanyaan, apa yang mereka butuhkan pada masa ini ?

Mereka mulai memperhatikan lawan jenisnya dan mengakibatkan anak menyukai kecenderungan tertentu seperti perhatian dan perlakuan khusus. Mereka juga cenderung menjalin persahabatan yang erat terutama dengan teman seusia mereka. Ada sejumlah kebutuhan sosial yang cukup urgent untuk dipenuhi pada masa ini, seperti :

  1. Dihargai => anak menjadi sangat perasa, sehingga ingin dihargai oleh orang – orang di sekitar mereka.
  2. Mereka membutuhkan kemandirian untuk membuat suatu keputusan.
  3. Mereka membutuhkan tempat berkeluh kesah atau curhat untuk berbagi masalah dengan mereka.
  4. Seorang pengarah, karena terkadang kebutuhan mereka terhalang dengan pengaturan dan sistem di masyarakat.
  5. Mereka ingin diterima dan diberi dukungan oleh masyarakat, teman, dan keluarga.

            Masa puber sangat dipengaruhi oleh masa kecil mereka dan suasana yang dia alami saat ini. Hubungan anak dengan orang tua juga ikut mempengaruhi mereka. Biasanya pada masa ini mereka mudah terlihat murung dan tak sedikit yang suka menyendiri. Selain itu, kondisi ekonomi dan sosial keluarga juga berpengaruh dan biasanya memberi dampak negatif pada anak.

            Mengenai penyimpangan yang terjadi di usia pubertas, sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Kawan yang tidak baik bisa mengarahkan mereka pada perilaku yang tidak baik juga, mengingat pada masa ini anak biasanya menganggap teman dekat mereka sebagai keluarga sendiri, hal ini memudahkan pengaruh yang luar biasa pada anak. Bahkan, bisa jadi ia mengalami pengalaman seksual yang tidak menyenangkan dari teman lawan jenisnya. Ada pula yang berpikiran berpindah gender, mereka berpikir bahwa sebenarnya ia tidak ditakdirkan untuk menjadi gender seperti saat ini.

            Pada masa ini pikiran anak sangat kritis, bahkan perkembangan kecerdasannya bisa mencapai 95%. Hal ini yang menyebabkan anak yang memasuki usia pubertas harus dibimbing untuk mengisi waktunya dengan kegiatan – kegiatan positif. Orang tua harus menjalin hubungan yang harmonis dengan anak, agar ia terbiasa menceritakan segala permasalahannya dan mengungkapkan keinginannya pada keluarga. Jangan lupa untuk menanamkan kepercayaan pada anak dan berikan ia kesempatan untuk memberi pendapat. Ikiutsertakan anak dalam kegiatan keluarga. Hal ini sangat penting, karena jika mereka merasa tidak mendapatkan  apa yang mereka mau, maka mereka akan merasa bahwa mereka masih bisa memperoleh keinginannya dari teman – teman mereka.

Tulisan tentang Menulis

Mengapa seseorang menulis ? Saya yakin jawabannya akan selalu beragam, tentunya sejumlah dengan orang yang kita tanyakan. Motif untuk menulis pun kemudian jadi bermacam – macam. Dari mulai orang yang memang sudah concern menulis, memang ingin menyampaikan gagasannya lewat tulisan disertai pengalaman yang luar biasa menginspirasi. Ada pula yang menulis untuk belajar, ingin mulai belajar merekam setiap yang singgah di kepala untuk ditulis. Begitu mungkin yang juga saya alami. Jadi dianggap wajar ketika terdapat kesalahan diksi dimana – mana, pemilihan tema yang tak terlalu menarik, atau cara mempublikasikannya tidak tepat.
Modal utama menulis sebenarnya adalah keberanian untuk berimajinasi menuangkan setiap fenomena yang ada kepada kata – kata. Hasilnya ? Belum tentu diterima memang, tapi itulah esensinya. Jangan menulis kalau enggan dikritik. Karena esensi kritik itu sendiri yang kemudian dapat membenahi tulisan kita. Memang tak salah, karena terdapat perbedaan pada masing – masing individu untuk menginterpretasikan fenomena yang terjadi di kelopak mata. Tak mungkin menyamakan persepsi setiap orang, karena semua akan bergantung pada pengalaman masing – masing orang.
Tapi, memang sebuah dilema kala menulis kemudian dipertanyakan. Menulis pada dasarnya adalah suatu media pembiasaan diri untuk belajar menerima segala perbedaan yang terjadi. Selain itu, menulis juga merupakan cara memanfaatkan waktu luang yang cukup efektif dengan berbagi pengalaman dan gagasan juga tentunya.
Menulis memang terlihat sesuatu yang sangat mudah untuk dilakukan, selama tak buta huruf, pasti setiap orang dapat melakukannya. Tapi nilai kemudahan itu sendiri juga relatif, tergantung pada apa yang ditulisnya. Begitu pula dengan siapa yang menulisnya. Kalau menulis diartikan sebagai aktivitas biasa seperti berjalan dan bercerita, memang mudah. Tapi kalau diartikan menjadi sebuah keterampilan, pasti akan mempertanyakan kembali makna kemudahannya. Analoginya seperti ini, setiap orang memang bisa menendang bola, tapi belum tentu setiap orang adalah pemain bola yang handal.
Sampai disini apakah masih dapat memandang secara objektif bahwa menulis itu mudah ? Karena sesungguhnya kata “mudah” atau “sulit” nilainya relatif, akan dikembalikan kepada siapa yang menyatakannya. Rumah seharga 500juta mungkin murah bagi para pengusaha yang sudah bergelimang harta, tapi bagi para pengemis di jalan, mendapatkan 500 rupiah saja sesuatu yang sulit, apalagi 500juta. Begitu halnya dengan menulis, mungkin seorang penulis buku atau novel, menulis adalah hal yang mudah. Tapi, bagi pemula yang masih baru dalam dunia menulis seperti saya, terlihat agak sulit sebenarnya. Terkadang, bingung tentang tema yang akan dipilih atau isi yang akan dieksposisikan dalam tulisan. Mungkin lebih tepatnya, muncul pertanyaan setelah menulis, mau dijadikan sebuah keterampilan atau hanya aktivitas mengisi kekosongan waktu ?
Kalau aku, ingin menulis untuk keduanya. Karena mengisi kekosongan waktu tanpa keterampilan pun terkadang jadi tak bermakna. Sama halnya dengan menulis yang saya lakukan. Saya hanya ingin menulis. Menulis dan terus menulis. Selama tinta yang tersimpan masih berisikan kata. Selama nada hati masih terus menari dengan gemulainya. Dan saya akan terus menulis dengan pena hati yang bertahtakan gemintang. Seperti ucapan “lonceng akan dikatakan lonceng jika dapat berbunyi dan lampu dikatakan lampu jika dapat menerangi”, begitulah menulis. Tulisan akan dianggap tulisan jika memang ada yang tertulis di dalamnya. Jadi, untuk terus menulis, tak perlu ragu lagi. Hanya tinggal meleburkan kata mudah dan sulit dalam satu bejana, yang kemudian bersatu, bahkan bisa menjadi ide tulisan itu sendiri. Mengenai hasilnya, biarlah orang yang membacanya menginterpretasi sesuai pandangannya masing – masing. Toh, itu juga yang akan memperkaya tulisan kita.

Jakarta, 24 desember 2009. 21 : 50

kenapa harus wanita shalihah?

Terkadang orang heran dan bertanya, kenapa harus mereka?


Yang bajunya panjang, tertutup rapat, dan malu-malu kalau berjalan..

Aku menjawab.. Karena mereka, lebih rela bangun pagi menyiapkan sarapan buat sang suami dibanding tidur bersama mimpi yang kebanyakan dilakukan oleh perempuan lain saat ini..

Ada juga yang bertanya, mengapa harus mereka?

Yang sama laki-laki-pun tak mau menyentuh, yang kalau berbicara ditundukkan pandangannya.. Bagaimana mereka bisa berbaur…

Aku menjawab.. Tahukah kalian.. bahwa hati mereka selalu terpaut kepada yang lemah, pada pengemis di jalanan, pada perempuan-perempuan renta yang tak lagi kuat menata hidup. Hidup mereka adalah sebuah totalitas untuk berkarya di hadapan-Nya.. Bersama dengan siapapun selama mendatangkan manfaat adalah kepribadian mereka.. Untuk itu, aku menjamin mereka kepadamu, bahwa kau takkan rugi memiliki mereka, kau takkan rugi dengan segala kesederhanaan, dan kau takkan rugi dengan semua kepolosan yang mereka miliki.. Hati yang bening dan jernih dari mereka telah membuat mereka menjadi seorang manusia sosial yang lebih utuh dari wanita di manapun..


Sering juga kudengar.. Mengapa harus mereka?


Yang tidak pernah mau punya cinta sebelum akad itu berlangsung, yang menghindar ketika sms-sms pengganggu dari para lelaki mulai berdatangan, yang selalu punya sejuta alasan untuk tidak berpacaran.. bagaimana mereka bisa romantis? bagaimana mereka punya pengalaman untuk menjaga cinta, apalagi jatuh cinta?

Aku menjawab..

Tahukah kamu.. bahwa cinta itu fitrah, karena ia fitrah maka kebeningannya harus selalu kita jaga. Fitrahnya cinta akan begitu mudah mengantarkan seseorang untuk memiliki kekuatan untuk berkorban, keberanian untuk melangkah, bahkan ketulusan untuk memberikan semua perhatian.

Namun, ada satu hal yang membedakan antara mereka dan wanita-wanita lainnya.. Mereka memiliki cinta yang suci untuk-Nya.. Mereka mencintaimu karena-Nya, berkorban untukmu karena-Nya, memberikan segenap kasihnya padamu juga karena-Nya… Itulah yang membedakan mereka..

Tak pernah sedetikpun mereka berpikir, bahwa mencintaimu karena fisikmu, mencintaimu karena kekayaanmu, mencintaimu karena keturunan keluargamu.. Cinta mereka murni.. bening.. suci.. hanya karena-Nya..

Kebeningan inilah yang membuat mereka berbeda… Mereka menjadi anggun, seperti permata-permata surga yang kemilaunya akan memberikan cahaya bagi dunia. Ketulusan dan kemurnian cinta mereka akan membuatmu menjadi lelaki paling bahagia..


Sering juga banyak yang bertanya.. mengapa harus mereka?


Yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca Al-Qur’an dibanding ke salon, yang lebih sering menghabiskan harinya dari kajian ke kajian dibanding jalan-jalan ke mall, yang sebagian besar waktu tertunaikan untuk hajat orang banyak, untuk dakwah, untuk perubahan bagi lingkungannya, dibanding kumpul-kumpul bersama teman sebaya mereka sambil berdiskusi yang tak penting.


Bagaimana mereka merawat diri mereka? bagaimana mereka bisa menjadi wanita modern?

Aku menjawab..

Tahukah kamu, bahwa dengan seringnya mereka membaca al Qur’an maka memudahkan hati mereka untuk jauh dari dunia.. Jiwa yang tak pernah terpaut dengan dunia akan menghabiskan harinya untuk memperdalam cintanya pada Allah.. Mereka akan menjadi orang-orang yang lapang jiwanya, meski materi tak mencukupi mereka, mereka menjadi orang yang paling rela menerima pemberian suami, apapun bentuknya, karena dunia bukanlah tujuannya. Mereka akan dengan mudah menyisihkan sebagian rezekinya untuk kepentingan orang banyak dibanding menghabiskannya untuk diri sendiri. Kesucian ini, hanya akan dimiliki oleh mereka yang terbiasa dengan al Qur’an, terbiasa dengan majelis-majelis ilmu, terbiasa dengan rumah-Nya.

Jangan khawatir soal bagaimana mereka merawat dan menjaga diri… Mereka tahu bagaimana memperlakukan suami dan bagaimana bergaul di dalam sebuah keluarga kecil mereka. Mereka sadar dan memahami bahwa kecantikan fisik penghangat kebahagiaan, kebersihan jiwa dan nurani mereka selalu bersama dengan keinginan yang kuat untuk merawat diri mereka. Lalu apakah yang kau khawatirkan jika mereka telah memiliki semua kecantikan itu?

Dan jangan takut mereka akan ketinggalan zaman. Tahukah kamu bahwa kesehariannya selalu bersama dengan ilmu pengetahuan.. Mereka tangguh menjadi seorang pembelajar, mereka tidak gampang menyerah jika harus terbentur dengan kondisi akademik. Mereka adalah orang-orang yang tahu dengan sikap profesional dan bagaimana menjadi orang-orang yang siap untuk sebuah perubahan. Perubahan bagi mereka adalah sebuah keniscayaan, untuk itu mereka telah siap dan akan selalu siap bertransformasi menjadi wanita-wanita hebat yang akan memberikan senyum bagi dunia.

Dan sering sekali, orang tak puas.. dan terus bertanya.. mengapa harus mereka?

Pada akhirnya, akupun menjawab…

Keagungan, kebeningan, kesucian, dan semua keindahan tentang mereka, takkan mampu kau pahami sebelum kamu menjadi lelaki yang shalih seperti mereka..

Yang pandangannya terjaga.. yang lisannya bijaksana.. yang siap berkeringat untuk mencari nafkah, yang kuat berdiri menjadi seorang imam bagi sang permata mulia, yang tak kenal lelah untuk bersama-sama mengenal-Nya, yang siap membimbing mereka, mengarahkan mereka, hingga meluruskan khilaf mereka…

Kalian yang benar-benar hebat secara fisik, jiwa, dan iman-lah yang akan memiliki mereka. Mereka adalah bidadari-bidadari surga yang turun ke dunia, maka Allah takkan begitu mudah untuk memberikan kepadamu yang tak berarti di mata-Nya… Allah menjaga mereka untuk sosok-sosok hebat yang akan merubah dunia. Menyuruh mereka menunggu dan lebih bersabar agar bisa bersama dengan para syuhada sang penghuni surga… Menahan mereka untuk dipasangkan dengan mereka yang tidurnya adalah dakwah, yang waktunya adalah dakwah, yang kesehariannya tercurahkan untuk dakwah.. sebab mereka adalah wanita-wanita yang menisbahkan hidupnya untuk jalan perjuangan.

Allah mempersiapkan mereka untuk menemani sang pejuang yang sesungguhnya, yang bukan hanya indah lisannya.. namun juga menggetarkan lakunya.. Allah mempersiapkan mereka untuk sang pejuang yang malamnya tak pernah lalai untuk dekat dengan-Nya.. yang siangnya dihabiskan dengan berjuang untuk memperpanjang nafas Islam di bumi-Nya.. Allah mempersiapkan mereka untuk sang pejuang yang cintanya pada Allah melebihi kecintaan mereka kepada dunia.. yang akan rela berkorban, dan meninggalkan dunia selagi Allah tujuannya.. Yang cintanya takkan pernah habis meski semua isi bumi tak lagi berdamai kepadanya.. Allah telah mempersiapkan mereka untuk lelaki-lelaki shalih penghulu surga…

Seberat itukah?

Ya… Takkan mudah.. sebab surga itu tidak bisa diraih dengan hanya bermalas-malasan tanpa ada perjuangan…


  Oleh: Yusuf Al Bahi

kenapa harus ada duka?


Saat kesulitan melanda, terkadang kita tak sadar bahwa duka itu ada sebagai bukti bahwa Allah masih sayang pada kita. Orang yang berjiwa positif akan berpikir, sifat manusia lemah, serba terbatas, kekurangan, dan butuh orang lain. Duka ada untuk mengingatkan kita bahwa kita adalah manusia.

Saat menghadapi duka, jiwa dan pikiran pun akan semakin matang manakala bisa bertahan saat diberi ujian oleh Allah. Allah menciptakan kegagalan dan musibah tak mungkin tak bertujuan. Dalam setiap musibah ada pelajaran yang dapat kita petik, baik untuk perbaikan di masa mendatang maupun untuk bisa kita hindari kelak.

Selain itu, musibah adalah cara bagi Allah untuk menghilangkan dosa kita. Jika kepedihan hati itu bisa kita balas dengan keteguhan hati, maka berguguranlah dosa – dosa yang lalu insyaAllah. Tak hanya itu, Allah menambah derajat kita lewat ujian yang diberikan pada kita.

Ingat, ending sebenarnya dari kehidupan kita bukan di dunia, tapi di akhirat. Itulah balasan yang sesungguhnya bagi kita bila menghadapi berbagai musibah, bertawakkallah dan jadikan dirimu setegar batu karang, karena ketika kita diberi ujian sebenarnya Allah tengah mempersiapkan berbagai ganjaran penghargaan atas ketabahan kita.

Allohu’ alam..